Mungkinkah Memahami Konsep Trinitas?

Konsep "trinitas", yaitu Tuhan Maha Esa/Tunggal akan tetapi terdiri dari tiga anggota, namun ketiga anggota tersebut pada hakekatnya hanya satu.

Konsep ini ternyata sulit untuk dijelaskan dengan logis oleh kaum Kristen, jangankan orang awam mereka, bahkan para pendeta merekapun sulit untuk menjelaskan konsep ini. Akan tetapi konsep ini tetap terpelihara dalam kaum Kristen karena ditanamkan dalam bentuk doktrin yang harus diimani oleh setiap pengikut Kristen!!!

Sungguh tidak ada kaum yang lebih bingung dari kaum Kristen dalam menjelaskan tentang prinsip dasar aqidah mereka. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

ولهذا قال طائفة من العقلاء: إن عامة مقالات الناس يمكن تصورُها إلا مقالة النصارى، وذلك أن الذين وضعوها لم يتصوروا ما قالوا، بل تكلموا بجهل، وجمعوا في كلامهم بين النقيضين ولهذا قال بعضهم: لو اجتمع عشرة نصارى لتفرقوا عن أحدَ عشرَ قولاً. وقال آخر: لو سألت بعض النصارى وامرأته وابنه عن توحيدهم لقال الرجل قولاً، وامرأته قولاً آخر، وابنه قولاً ثالثاً 

"Karenanya sekelompok kaum intelektual berkata : Umumnya aqidah-aqidah masyarakat bisa tergambarkan maksudnya kecuali aqidahnya kaum Nashoro. Hal ini disebabkan karena orang-orang yang membuat aqidah ini tidak paham apa yang mereka katakan, akan tetapi mereka berbicara tentang aqidah mereka di atas kebodohan. Mereka telah mengumpulkan dua hal yang kontradiksi dalam pernyataan aqidah mereka. Karenanya sebagian orang berkata : Jika ada 10 orang Nahsoro berkumpul (untuk menggambarkan hakekat aqidah mereka-pen) maka akan muncul 11 pendapat. Ada juga yang berkata : Kalau engkau bertanya kepada sebagian keluarga Nashoro, kau tanyakan kepada istri dan anaknya tentang hakekat tauhid mereka maka sang suami memiliki pendapat, sang istri punya pendapat lain, dan sang anak juga memiliki pendapat yang lain" (Al-Jawaab As-Shahih 2/155)

Sungguh benar pernyataan Ibnu Taimiyyah ini, tidak ada seorang kristianipun yang mampu menjelaskan hakekat aqidah trinitas mereka dengan penjelasan yang masuk akal. Padahal yang namanya aqidah adalah keyakinan yang kuat, maka bagaimana mau meyakini sesuatu yang tidak masuk akal untuk dijelaskan.

Telah banyak analogi dan teori yang mereka kemukakan akan tetapi tetap saja tidak bisa merubah hakekat 3 pribadi/substansi menjadi 1 Tuhan. Bahkan sebagian mereka mengaku bahwa manusia tidak akan pernah mampu memahami konsep trinitas.

Diantara mereka ada yang berkata "Sekali lagi saya tekankan bahwa konsep Trinitas tidak pernah ada di dalam pengetahuan dan pengalaman manusia. Karena tidak pernah ada maka manusia mengalami kesulitan untuk memahami konsep Tritunggal ini" (silahkan lihat komentar di http://saksi-saksi-yehuwa.blogspot.com/2013/03/konsep-trinitas-mengapa-melampaui-akal.html).

Ada juga yang berkata "Memang pada akhirnya, Trinitas hanya dapat dipahami dalam kacamata iman, karena ini adalah suatu misteri, meskipun ada banyak hal juga yang dapat kita ketahui dalam misteri tersebut. Manusia dengan pemikiran sendiri memang tidak akan dapat mencapai pemahaman sempurna tentang misteri Trinitas, walaupun misteri itu sudah diwahyukan Allah kepada manusia" (lihat http://katolisitas.org/563/trinitas-satu-tuhan-dalam-tiga-pribadi)

Berikut ini analogi-analogi yang diutarakan oleh sebagian kaum Kristen tentang hakekat Trinitas, yang menunjukkan akan kebingungan mereka,

Pertama : Yesus dan Ruh Kudus adalah belahan jiwa Bapa

Diantara perkataan mereka ((Ketika Allah menciptakan bumi, berfirman: Jadilah! Lalu terciptalah bumi. Bumi adalah “hasil kerja” Allah, dan BUKAN bagian dari Diri Allah, atau bukan “belahan jiwa” Allah.

Pendekatannya begini: kalau Anda membuat sebuah tembikar, maka terciptalah tembikar itu yang Anda buat dari bahan “diluar” tubuh Anda, misalnya dari tanah liat dan tembikar itu merupakan “hasil kerja” Anda. Berbeda dengan, anak (maaf) yang dihasilkan sebuah perkawinan, maka bayi yang dilahirkan adalah “belahan jiwa” atau “belahan sel” pasangan manusia yang menikah (suami-isteri).

Ada perbedaan mencolok antara bayi yang “dikeluarkan” oleh seorang ibu dengan tembikar hasil kreasi Anda. Roh Kudus dan juga Yesus bukanlah ciptaan Allah, tetapi “BELAHAN JIWA” Allah sendiri. Oleh karena itu, “tabiat” dan “karakter” Yesus dan Roh Kudus, keduanya identik “karakter” BAPA sebagai sumber Mereka.

Itulah sebabnya tidak aneh, ketika Yesus bersabda, bermakna: “Apa yang Ku katakan kepadamu bukan berasal dari Diri-Ku sendiri, melainkan Apa yang Kudengar dari Bapa, itulah yang Kusampaikan kepadamu”.

Jadi,… Bapa, Yesus dan Roh Kudus bukanlah tiga allah yang berasal dari tiga galaksi antah berantah yang kebetulan bertemu, salaman, lalu merasa mempunyai satu visi, kemudian bergabung manjadi satu (polytheisme) melainkan SATU ALLAH yang “membelah diri” menjadi tiga bagian besar: Yesus, Roh Kudus dan Bapa sendiri sebagai bagian TERBESAR, baik dalam hal KUASA, OTORITAS (hak untuk memerintah yang didukung kemampuan sempurna) maupun “Volume” (jika memang ukuran volume Roh dianggap ada)…. Roh Kudus bukan malaikat, walupun keduanya sama-sama Roh dan roh.

Roh Kudus adalah Pencipta, sedangkan malaikat adalah makhluk ciptaan. Ketika Yesus baru saja dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan, maka Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Kemudian Yesus berhasil menang melawan pencobaan Iblis, lalu berdatanganlah malaikat-malaikat Tuhan melayani Yesus)) (silahkan lihat : http://thebelovedson.blogspot.com/2011/07/penjelasan-konsep-trinitas-secara.html)

Saya rasa ini adalah analogi yang terburuk dan akan sangat ditolak oleh kaum Kristen. Karena analogi ini sangat jelas dan vulgar menunjukkan bahwa tuhan ada tiga, bahkan ibarat anak yang merupakan belahan jiwa ibu dan ayahnya, atau Hawa yang merupakan belahan jiwa Adam. Tentunya jika seorang ibu melahirkan satu orang anak maka jadilah mereka menjadi dua manusia yang saling berbeda.

Kedua : Allah Yang Maha Esa terdiri dari 3 pribadi yang berbeda 

Diantara perkataan mereka ((Kata "Trinitas" adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan ajaran Kristen bahwa Tuhan adalah satu kesatuan dari tiga pribadi yang berbeda yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Setiap pribadi tersebut berbeda dari yang lain, namun pada dasarnya identik. Dengan kata lain, masing-masing pribadi sepenuhnya ilahi, tetapi masing-masing bukanlah totalitas dari masing-masing pribadi dalam Trinitas. Bapa bukanlah pribadi yang sama dengan Putra dan juga bukan pribadi yang sama seperti Roh Kudus. Dalam peristiwa pembaptisan Yesus, ketiga pribadi yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus menunjukkan keberadaannya yang terpisah satu dengan yang lain. Namun setiap pribadi ilahi tersebut bukanlah tiga Allah, melainkan satu Allah…)) 

((kita melihat bahwa Bapa telah mengutus Anak, tapi ini tidak berarti bahwa Anak tidak sama dengan Bapa dalam esensi dan sifat keilahiannya. Anak adalah sama dengan Bapa dalam keilahian-Nya, tetapi dalam beberapa saat berada lebih rendah dalam inkarnasi-Nya sebagai manusia...)) 

((Oleh karena itu, fakta bahwa Anak diutus oleh Bapa, tidak berarti bahwa Dia tidak ilahi lagi. Sama seperti ketika anda menyuruh anak anda untuk membeli roti, bukan berarti anak anda bukanlah manusia seperti anda. Dalam penjelasan diatas memang kita melihat hal lain yang penting tentang Tritunggal yaitu bahwa hal itu bukanlah konsep yang mudah untuk dipahami. Tapi hal tersebut tidak menjadikan keraguan dari kebenaran konsep tersebut)) (silahkan lihat https://www.facebook.com/christian.answers.ind/posts/382582578496527)

Demikan juga diantara perkataan mereka ((Dengan prinsip yang sama, maka di dalam Trinitas, substansi/hakekat yang ada adalah satu, yaitu Tuhan, sedangkan di dalam kesatuan tersebut terdapat tiga Pribadi: ada tiga ‘Aku’, yaitu Bapa. Putera dan Roh Kudus. Tiga pribadi manusia tidak dapat menyamai makna Trinitas, karena di dalam tiga orang manusia, terdapat tiga “kejadian”/ ‘instances‘ kodrat manusia; sedangkan di dalam tiga Pribadi ilahi, terdapat hanya satu kodrat Allah, yang identik dengan ketiga Pribadi tersebut. Dengan demikian, ketiga Pribadi Allah mempunyai kesamaan hakekat Allah yang sempurna, sehingga ketiganya membentuk kesatuan yang sempurna. Yang membedakan Pribadi yang satu dengan yang lainnya hanyalah terletak dalam hal hubungan timbal balik antara ketiganya)) (lihat http://katolisitas.org/563/trinitas-satu-tuhan-dalam-tiga-pribadi) 

 Analogi ini pun gagal untuk menjelaskan konsep trinitas yang logis. Karena dalam analogi ini adanya pengakuan bahwa yesus berbeda dengan Bapa, dan Ruhul Kudus juga berbeda dengan Bapa. Kesamaan tiga pribadi ini dari sisi ketuhanan, adapun dari sisi hakekat maka berbeda, karena yesus ada unsur/kodrat manusianya yang jelas berbeda dengan unsur Bapa.

Ketiga : Trinitas ibarat tiga unsur yang membentuk satu kesatuan, ibarat matahari, atau air, atau rokok 

(1) Trinitas itu seperti matahari Matahari mempunyai tiga bagian yg tidak terpisahkan. Ada mataharinya sendiri, ada panasnya, dan ada sinarnya, tapi semuanya satu membentuk matahari. Seperti itulah gambaran Trinitas itu. Benarkah? Kita lihat : Dalam Trinitas, Tuhan Bapa adalah Tuhan, Yesus adalah Tuhan, roh kudus adalah Tuhan.

Dalam analogi itu, matahari memang adalah matahari, tapi apakah panasnya juga bisa disebut matahari, dan apakah sinarnya juga bisa disebut matahari? Tidak. Analogi ini tidak bisa menjelaskan sama sekali tentang Trinitas.

(2) Trinitas itu seperti rokok Rokok mempunyai tiga unsur, rokoknya sendiri, apinya, dan asapnya. Ketiganya adalah unsur yg tidak dapat dipisahkan dalam sebuah rokok. Seperti itulah gambaran Trinitas. 

Benarkah? Kita lihat : jika Tuhan Bapa, Yesus, dan roh kudus semuanya adalah disebut Tuhan, dalam analogi itu rokoknya sendiri memang disebut rokok, tapi apakah apinya bisa disebut rokok? Apakah asapnya bisa disebut rokok? Tidak. Analogi inipun sama sekali juga salah dan tidak dapat dipakai untuk menjelaskan Trinitas.

(3) Trinitas itu seperti air Air adalah suatu unsur yg dapat mempunyai tiga wujud yaitu : padat, cair, dan gas. Ada es, air, dan uap. Kita harus ingat bahwa komponen air dalam wujud apapun adalah tetap sama yaitu H2O. Dua atom hidrogen dan satu atom oksigen. Unsur pokoknya sama, hanya bentuknya saja yg berubah. Seperti itulah gambaran Trinitas.

Analogi ini tampaknya adalah analogi terbaik yang dapat diberikan untuk menjelaskan Trinitas secara logis, dan sepintas memang tampak dapat menjelaskan tentang Trinitas itu. Akan tetapi kalau kita pikirkan lagi, ternyata analogi inipun juga tidak dapat menjelaskan Trinitas dengan baik.

Mereka mengatakan bahwa bentuk air bisa berubah, tapi unsurnya tetap sama, yaitu H2O. Bagaimana dengan Trinitas? Apakah juga berubah bentuk dari unsur yg sama? Tuhan dan roh kudus berbentuk roh (dalam kepercayaan Kristen), dan makhluk hidup (manusia/Yesus) terdiri dari daging dan tulang, dimana manusia juga butuh makanan untuk hidup, jadi mereka tidak sama. Unsur mereka berbeda, jika air dalam bentuk berbeda tetap mempunyai unsur yg sama, yaitu H2O, maka Trinitas dalam bentuk yg berbeda adalah memang terdiri dari unsur yg berbeda. Jadi mereka tidak sama, mereka berbeda. (silahkan lihat pembahasan ini di http://insanberpijar.blogspot.com/2012/08/trinitas-tidak-ada-di-alkitab-tapi.html)

Apapun analogi yang diutarakan oleh umat kristiani tidak akan bisa menjelaskan dengan logis konsep trinitas. Semua analogi terpaksa menetapkan adanya tiga pribadi yang saling berbeda namun selalu berusaha dianggap satu dari satu sudut pandang. Yesus meskipun manusia tapi dari sudut pandang lain merupakan tuhan. (bersambung)

Penulis: Firanda Andirja, MA
Artikel: Firanda.Com

Apakah Jin Betul-Betul Mengetahui Perkara Gaib?

Soal:
Apakah para jin itu mengetahui ilmu gaib?

Jawab:
Jin tidak mengetahui ilmu gaib. Juga semua yang di langit dan bumi tidak ada yang mengetahui ilmu gaib kecuali Allah. Bacalah firman Allah Ta’ala:

فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ إِلَّا دَابَّةُ الْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan” (QS. Saba: 14).

Barangsiapa yang mengklaim dirinya mengetahui ilmu gaib, maka ia kafir. Dan barangsiapa yang membenarkan orang yang mengklaim mengetahui ilmu gaib maka ia juga kafir. Berdasarkan firman Allah Ta’ala :

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”” (QS. An Naml: 65).

Maka, tidak ada yang mengetahui ilmu gaib kecuali hanya Allah semata. Dan mereka yang mengklaim mengetahui ilmu gaib atau kejadian di masa mendatang, semuanya adalah termasuk dukun. Dan telah shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, bahwa beliau bersabda:

من أتى عرافاً فسأله لم تقبل له صلاة أربعين يوماً

“barangsiapa yang mendatangi dukun dan bertanya padanya, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari” (HR. Muslim, no. 2230)

Dan jika seseorang mempercayainya maka ia menjadi kafir. Karena jika ia mempercayai ada makhluk yang mengetahui ilmu gaib, berarti ia telah mendustakan firman Allah Ta’ala:

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”” (QS. An Naml: 65).

***
Sumber: Fatawa Arkanil Islam no. 44, Asy Syamilah

Penerjemah: Yulian Purnama
Artikel: Muslim.Or.Id

Proses Pengangkatan Hasan bin Ali Menjadi Khalifah

Bagai berdiri diantara dua jurang. Kiranya seperti itulah bahasan seputar sahabat yang mulia ini, Ali bin Abi Thalib beserta  putera beliau, Hasan. Ada dua sikap yang saling bertolak belakang, sangat kontras. Sikap berlebihan dalam memuji (ghuluw) dan sikap 'kurang ajar' dalam mencela beliau terkait masalah kepemimpinan.

Disamping itu, banyak sekali kerancuan yang terjadi seputar kekhilafahan Hasan bin Ali –radhiyallahu 'anhu-. Ada yang mengatakan beliau ditunjuk menjadi khalifah karena wasiat bapak beliau, Ali. Ada pula yang berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib tidak pernah berwasiat seperti itu.

Syiah, itulah nama kelompok yang meyakini bahwa Ali -radhiyallahu 'anhu- berwasiat kepada puteranya untuk meneruskan kekhilafahan sepeninggal beliau. Kelompok ini yang paling 'getol' menyebarkan keyakinan ini. Keyakinan wasiat yang diusung oleh kelompok ini, Syiah, sangat bertolak belakang dengan keyakinan kaum muslimin secara umum.

Masalah wasiat ini menjadi penting karena sangat sedikit kaum muslimin yang mengetahui kebenarannya. Ditambah, hal ini berada dalam ranah akidah (keyakinan), jika seseorang keliru meyakini masalah ini maka bisa berakibat fatal terhadap keimanannya seperti menyangka sebagian sahabat Nabi atau seorang saja dari mereka adalah orang yang khianat, curang dan sebagainya maka akan fatal akibatnya. Sedangkan para sahabat ini sudah mendapat jaminan surga dari Allah Azza wa Jalla. Memang fatal bukan?

Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini saya akan meruntut kronologi pengangkatan Hasan sebagai khalifah sepeninggal Ali dengan disertai nukilan-nukilan para ahli sejarah Islam yang terpercaya. Apa betul beliau ditunjuk sebagai khalifah karena wasiat ayah beliau?

Kekhilafahan Hasan dan Keutamaannya 

Setelah khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu 'anhu- wafat karena dibunuh oleh Abdurrahman bin 'Amru Almurady pada 18 Ramadhan 40 H, Hasan bin Ali dibaiat menjadi khalifah untuk negeri Hijaz, Yaman, Irak, Khurasan, dan selainnya. Masa kepemimpinan beliau berlangsung selama tujuh bulan saja, ada yang berpendapat delapan bulan, dan ada pula yang bilang enam bulan.

Kekhilafahan beliau ini, walau relatif singkat termasuk bagian dari masa khilafah rasyidah, yang mana Rasulullah pernah berkata bahwa masa khilafah rasyidah itu tiga puluh tahun dan setelah masa itu, disebut mulk (kerajaan).

Tujuh bulan masa kekhilafahan Hasan jika ditotal dengan masa kekhilafahan para khalifah sebelumnya, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali –radhiyallahu 'anhum- maka berjumlah tiga puluh tahun, persis seperti apa yang Rasulullah –shalawatullahi wa salamuhu 'alaih- kabarkan. [Lihat: Attabaqatul Kubra karya Ibnu Sa'ad  (4/ 37), Tarikhur Rusul wal Muluk karya Attabary (5/ 143), Alkamil fit Tarikh karya Ibnul Atsir (3/ 387), dan Albidayah wan Nihayah karya Ibnul Katsir (7/ 387)]

Maksud dari khilafah rasyidah adalah kepemimpinan yang bijaksana atas umat Islam sesuai tuntunan Rasulullah sepeninggal beliau. Jadi, khalifah adalah orang yang mengemban tugas memimpin umat ini sepeninggal beliau. Adapun kata rasyidah maka artinya bijaksana. Ada dua sifat yang melekat pada kepemimpinan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali -radhiyallahu 'anhum-, yaitu sifat khilafah dan sifat rasyidah (bijaksana) sebagaimana penamaan Nabi –shalawatullahi wa salamuhu 'alaih- untuk mereka.

Yang perlu diingat adalah penamaan ini tidak hanya melekat untuk mereka saja. Bisa jadi ada pemimpin setelah mereka yang bergelar khalifah, ada pula yang bergelar bijaksana. Akan tetapi persaksian Nabi dan penggabungan kedua sifat ini lah yang menjadi kelebihan para khalifah yang empat ini, sifat khilafah dan sifat rasyidah. [Lihat: Syarhul Akidah Thahawiyah karya Shalih Alus Syaikh (1/ 643)]

Para ulama semisal Imam Ahmad, Tirmidzi, dan Abu Daud –rahimahumullah-, mereka meriwayatkan sebuah hadits Rasulullah –shalawatullahi wa salamuhu 'alaih- dari Safinah --radhiyallahu 'anhu-, budak beliau. Rasulullah bersabda:
الخلافة في أمّتي ثلاثون سنة ثم ملك بعد ذلك.
Artinya: "Kekhilafahan umatku selama tiga puluh tahun, adapun setelah itu adalah kerajaan". [HR. Tirmidzi (no. 2226), Abu Daud (no. 4646), dan Ahmad (no. 21969). Lafadz hadits ini dari Tirmidzi, beliau menghukumi hadits ini hasan, dan Albany menghukuminya shahih di kitab Shahih Sunanit Tirmidzi.]
             
Hampir sebagian besar ulama seperti Alqadhi 'Iyadh, Ibnu Katsir, Ibnul 'Araby, Ibnu Abil 'Izz, dan selain mereka –rahimahumullah-, ketika menjelaskan hadist ini berpendapat bahwa masa khilafah rasyidah adalah masa kepemimpinan para khalifah yang empat dan ditambah masa kepemimpinan Hasan -radhiyallahu 'anhu- sehingga jumlahnya menjadi genap tiga puluh tahun. [Lihat: Ahkamul Quran karya Ibnul 'Araby (4/ 1720) dan Syarhul Akidah Thahawiyah karya Ibnu Abil 'Izz (545)]

Ibnu Katsir berkata: "Dalil untuk pendapat yang mengatakan bahwa beliau (Hasan) termasuk dari khilafah rasyidah adalah hadits yang kami sebutkan di Dalailun Nubuwah, dari hadits Safinah, pembantu Rasulullah. Jumlah tiga puluh tahun itu tidak mungkin pas kecuali dengan menambahkan masa khilafah Hasan bin Ali". [Albidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir (8/ 17)]

Benarkah Hasan Menjadi Khalifah Karena Wasiat Ali?

Pendapat yang betul adalah pengangkatan beliau menjadi seorang khalifah memang murni pilihan kaum muslimin waktu itu, bukan karena wasiat Ali, ayah beliau. Hal ini berdasarkan sebuah atsar (ucapan) dari Ali –radhiyallahu 'anhu- sendiri yang menyatakan penolakan beliau untuk berwasiat.

Imam Dzahaby –rahimahullah- menukil sebuah atsar dari Ali –radhiyallahu 'anhu- lengkap dengan sanadnya bahwa ketika detik-detik sebelum Ali bin Abi Thalib wafat, kaum muslimin meminta beliau untuk menunjuk khalifah setelah beliau. "Tunjuklah khalifah setelahmu?" pinta mereka. Namun beliau menolak: "Tidak, aku akan membiarkan kalian (memilih) sesuai dengan apa yang Rasulullah tinggalkan untuk kalian (tuntunan beliau dalam memilih pemimpin, pen)". [Lihat: Tarikhul Islam wa Wafayatul Masyahiri wal 'Alam karya Dzahaby (3/ 153)]

Sebagai penguat, Alhafidz Ibnu Katsir –rahimahullah- juga menukil atsar yang senada, dari Ali –radhiyallahu 'anhu- sebelum beliau wafat, dengan redaksi yang sedikit berbeda: "Wahai Amirul Mukminin, tentukan khalifah selanjutnya?" Ketika diminta itu, beliau menolak: "Tidak, akan tetapi aku akan membiarkan kalian (memilih, pen) sebagaimana dahulu Rasulullah membiarkan kalian (memilih khalifah tanpa beliau tentukan, pen). Jika Allah menghendaki kebaikan untuk kalian maka Dia akan kembali menyatukan kalian sebagaimana dulu Allah menyatukan kalian dibawah pimpinan orang yang terbaik setelah Rasulullah". [Albidayah wan Nihayah (8/ 381). Lihat juga: Alkamil fit Tarikh (3/ 85-87)]

Orang yang pertama kali menyodorkan tangan untuk membaiat Hasan setelah Ali –radhiyallahu 'anhu- wafat adalah Qais bin Sa'ad bin Ubadah, beliau berkata: "Sodorkan tanganmu, Aku ingin membaiatmu (menjadi khalifah, pen) sesuai Alquran dan Sunah Nabi?". Hasan pun sempat terdiam, namun Qais tetap meminta beliau maka akhirnya beliau pun menyodorkan tangan beliau. Kemudian kaum muslimin ikut membaiatnya. [Lihat: Albidayah wan Nihayah (8/ 381) dan Alkamil fit Tarikh (3/ 85-87)]
Sebuah Catatan Penting 

Kelompok Syiah Imamiyah sangat 'getol' menyebarkan keyakinan mereka terkait pengangkatan Hasan sebagai khalifah. Mereka meyakini bahwa penunjukan Hasan itu melalui wasiat dari Ali.
Keyakinan seperti ini merupakan salah satu kedustaan mereka terhadap Amirul Mukminin, Ali –radhiyallahu 'anhu- karena semua riwayat yang mereka nukil tidak ada satu pun yang bisa dipertanggungjawabkan keabsahan dan kebenarannya.
Syiah atau lebih spesifik lagi Rafidhah, mereka meyakini bahwa imamah (kepemimpinan) itu sama persis dengan nubuwwah (penunjukan menjadi nabi), harus melalui penunjukan langsung dari Allah melalui lisan Nabi-Nya. Ini sebagai bentuk kasih sayang Allah, dan setiap jaman tidak boleh lepas dari penunjukan seorang imam dari Allah langsung serta wajib ditaati oleh semua orang.
Manusia tidak punya hak untuk memilih imam (pemimpin). Bahkan seorang imam sekalipun tidak punya hak untuk menentukan siapa imam selanjutnya kecuali dengan penunjukan langsung dari Allah melalui lisan para Imam tersebut. Itulah sekelumit keyakinan 'nyeleneh' kelompok ini, Syiah Rafidhah. [Lihat: Amirul Mukminin, Hasan bin Ali karya Asshallaby (192)]

Syiah membuat puluhan riwayat palsu yang mereka sandarkan kepada para imam mereka, diantaranya adalah sebuah riwayat yang mereka sandarkan kepada Muhammad Albaqir –rahimahullah- bahwa beliau berkata: "Apa kalian mengira penunjukan imam (pemimpin) itu berada ditangan kami dan sesuai kehendak kami!? Demi Allah, tidak. Itu semua berasal dari Rasulullah, beliau lah yang menyebutkan satu persatu setiap imam (beserta namanya) hingga imam terakhir". [Ibid (192)]
Riwayat palsu yang lain adalah riwayat yang disebutkan Kulainy (penulis salah satu kitab rujukan kelompok Syiah, Alkafy), dia menceritakan bahwa Ali pernah berkata kepada Hasan: "Wahai anakku, Rasulullah menyuruhku untuk menyerahkan kepemimpinan kepadamu sebagaimana dulu Beliau menyerahkannya kepadaku. Beliau juga menyuruhku untuk memberitahumu jika kamu nanti sekarat agar menyerahkan kepemimpinan ini kepada adikmu, Husain". Kemudian Ali memanggil Husain dan berkata: "Rasulullah menyuruhmu untuk menyerahkan kepemimpinan itu nanti kepada puteramu ini sambil memegang tangan Ali bin Husain". Kemudian Ali berkata kepada Ali bin Husain: "Rasulullah juga menyuruhmu untuk menyerahkan kepemimpinan itu kepada puteramu, Muhammad bin Ali". "Ini semua perintah Rasulullah". [Alkafy karya Alkulainy (1/ 297-298), buku ini adalah salah satu buku rujukan Syiah]
Inilah Yang Dinamakan Tahun Persatuan
Setelah Hasan diangkat sebagai khalifah, beliau memandang bahwa beliau adalah pemimpin yang sah untuk seluruh kaum muslimin semasa itu. Tidak terkecuali penduduk negeri Syam yang kala itu belum membaiat beliau sebagai khalifah.
Beliau berencana agar penduduk negeri Syam yang masih dipimpin oleh sahabat yang mulia, Muawiyah bin Abi Sufyan –radhiyallahu 'anhu- ikut membaiat beliau agar kaum muslimin dibawah kepemimpinan satu orang saja. Maka beliau bersama pasukan yang besar berangkat menuju negeri Syam.
Ketika kedua pasukan besar ini bertemu, Hasan –radhiyallahu 'anhu- melihat bahwa ini tidak akan selesai sampai kedua pasukan saling bunuh. Lantas beliau pun menempuh jalan damai agar darah kaum muslimin tidak tumpah dengan tawaran beliau mundur dari kekhilafahan dan menyerahkannya kepada Muawiyah jika sahabat yang mulia ini sanggup memenuhi syarat yang beliau ajukan.

Terjadilah perjanjian damai setelah Muawiyah –radhiyallahu 'anhu- memenuhi syarat yang diajukan oleh Hasan –radhiyallahu 'anhu-. Kaum muslimin kala itu kembali bersatu dibawah naungan satu pemimpin. Oleh karena itu, tahun itu dikenal sebagai tahun jama'ah (persatuan).
Imam Bukhari –rahimahullah- menceritakan kisah perdamaian Hasan dan Muawiyah –radhiyallahu 'anhuma- ini secara detail disertai sanadnya yang berasal dari Hasan Albashry –rahimahullah-. Di akhir cerita, beliau menukil sebuah hadits dari Hasan Albashry yang mendengarnya dari Abu Bakrah –radhiyallahu 'anhu- bahwa sahabat ini pernah melihat Rasulullah diatas mimbar bersama Hasan bin Ali disamping beliau. Kadang beliau menatap Hasan dan kadang menatap hadirin kemudian berkata: "Anakku ini adalah seorang pemimpin. Dengannya kelak, mudahan Allah mendamaikan dua kubu besar kaum muslimin (yang berselisih)". [HR. Bukhari (no.2704)]
Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkomentar tentang hadits ini, beliau menjelaskan: "Hadits ini menunjukkan bahwa upaya damai yang Hasan lakukan untuk kedua kubu adalah hal yang terpuji, Allah dan Rasul-Nya menyukainya. Mungkin ini salah satu kelebihan dan keutamaan yang paling besar pada diri Hasan yang mana Rasulullah telah memujinya atas itu. Kalau seandainya perang kala itu wajib atau mustahab (dianjurkan) maka mana mungkin Rasulullah memuji perbuatan yang menyelisihi perkara wajib atau pun mustahab". [Minhajus Sunnah karya Ibnu Taimiyah (2/ 202)]
Hadits ini juga menjelaskan salah satu bentuk sifat pemimpin yang Rasulullah sematkan pada Hasan, yaitu penyerahan beliau khilafah kepada Muawiyah.
Kedua kelompok yang bersama Hasan dan Muawiyah sama-sama disifati dengan muslimin, yang menunjukkan bahwa kedua kelompok yang berselisih ini tidak keluar dari Islam.

Begitu pula pujian terhadap Muawiyah –radhiyallahu 'anhu-, ada dalam hadits ini. Karena tidak mungkin Rasulullah memuji sikap Hasan –radhiyallahu 'anhu- yang menyerahkan kepemimpinan umat Islam kepada Muawiyah jika seandainya Muawiyah bukan orang yang layak untuk memimpin umat ini. [Lihat: Fathul Wahidil 'Aly fid Difa' 'an Shahabatin Nabi karya Abdullah Assa'ad (60)]
Sikap Ahlus Sunnah Dalam Masalah Ini
Dalam hal ini, Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa kekhilafahan Hasan itu sah dan termasuk bagian dari khilafah rasyidah.
Mereka juga memandang upaya damai dengan Muawiyah –radhiyallahu 'anhu- dan penyerahan tampuk pimpinan merupakan kemuliaan yang Hasan –radhiyallahu 'anhu- miliki yang mana dengan begitu, terbuktilah ucapan Rasulullah, Allah mempersatukan penduduk Syam dan penduduk Irak. Jelas, Allah dan Rasul-Nya menyukai hal ini (persatuan).
Inilah sikap Ahlus Sunnah terkait masalah ini, dan ini bagian dari akidah mereka. Para ulama semisal Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar, dan Ibnu Katsir –rahimahullah- telah memaparkan hal ini dengan gamblang. [Lihat: Minhajus Sunnah (4/ 532), Majmu'ul Fatawa (25/ 306), Fathul Bari karya Ibnu Hajar (13/ 66), dan Albidayah wan Nihayah (8/ 17)]

Sikap Syiah Rafidhah Dalam Masalah Ini
Syiah memandang upaya damai Hasan dan penyerahan tampuk pimpinan kepada Muawiyah adalah bentuk kelemahan dari Hasan dan penghinaannya terhadap kemuliaan kaum muslimin. Sehingga pasca kejadian itu, mereka memberi beliau gelar dengan sebutan mudzillul mukminin (orang yang membuat kaum musliminin hina). [Lihat: Ma'rifatu Akhbarir Rijal karya Alkussyi (73)]
Tidak berhenti hanya disitu, mereka mengganggap garis imamah (kepemimpinan) telah putus dari anak keturunan Hasan semenjak peristiwa itu. Makanya sisa imam mereka semua berasal dari anak keturunan Husain saja.
Begitulah sikap Syiah, kelompok yang terus mengklaim sebagai kelompok yang sangat menghormati Ahlul Bait Rasulullah, tapi itu hanya sebatas klaim saja. Buktinya inilah sikap mereka terkait peristiwa yang mereka anggap memalukan ini. Ibnu Rustum, Alqummy, dan Almajlisy adalah nama-nama penulis Syiah yang mencantumkan sikap ini didalam karangan-karangan mereka. [Lihat: Dalailul Imamah (89), Alimamah wat Tabshirah minal Hairah (194), dan Biharul Anwar (25/ 239- 259]
Sikap Khawarij Dalam Masalah Ini
Adapun sikap Khawarij, kelompok yang 'gemar' mengkafirkan kaum muslimin dengan alasan dosa yang dilakukan, mereka memandang bahwa apa yang Hasan lakukan dengan berdamai dan menyerahkan kekhilafahan kepada Muawiyah adalah karena kecintaannya (Hasan) terhadap dunia.
Mereka menuduh Hasan tertipu dengan ucapan Muawiyah dan tergiur dengan iming-iming uang emas dan perak yang Muawiyah tawarkan sebagai imbalan jika Hasan mau menyerahkan kepemimpinan kepadanya. [Alkasyfu wal Bayan karya Alqalhany (89)]
Salah satu pandangan seorang penulis Khawarij, Alqalhany tentang Hasan, dia menulis: "Hasan telah menjual akhirat dengan dunia sedangkan Allah mengancam yang orang yang seperti ini:
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ. 
Artinya: "janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang dzalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka". [QS. Hud: 113] [Alkasyfu wal Bayan (89)]
Mereka juga mengharuskan baroah (berlepas diri dan benci) terhadap Hasan karena kesalahan (menurut mereka) yang Dia lakukan, yaitu menyerahkan kepemimpinan kepada Muawiyah bin Abu Sufyan, walau hubungan darah dengan Rasul sekalipun tidak akan berguna untuknya (Hasan). [Kasyful Ghummah (288- 289)]
Demikian, mudahan Allah menunjukkan jalan kebenaran kepada kita semua. Semoga Bermanfaat.

Artikel: www.Alukatsir.Blogspot.com
 

Kawan, Inilah Sikap Yang Tepat Terhadap Para Sahabat

Allah telah memilihkan untuk Nabi-Nya sekelompok orang-orang terbaik di zamannya dan menjadi mereka sebagai sahabat Nabi-Nya. Mereka adalah sebaik-baik penolong dan sebaik-baik teman, semoga Allah meridhai mereka semua. Mereka adalah sebaik-baik generasi, hati mereka adalah hati manusia yang paling baik setelah para nabi. Mereka adalah imam pemberi petunjuk, mencintai mereka adalah bagian dari agama, keimanan, dan ihsan. Dan membenci mereka adalah bagian dari kekufuran, kemunafikan, dan kesombongan.

Mereka para sahabat adalah orang-orang yang berjumpa dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun sebentar, beriman kepadanya dan wafat dengan berpegang pada keimanan tersebut. Mereka adalah sebaik-baik generasi dan para imam setelah para nabi. Yang demikian itu karena Allah memilih mereka untuk menemani manusia pilihan-Nya yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka beriman kepada Nabi, berjihad bersamanya, dan belajar Islam langsung kepada beliau.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintai sahabat-sahabatnya radhiallahu ‘anhum. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al-Fath: 18).

Dan firman-Nya yang artinya:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29).

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah melihat hati para hamba-Nya, dan mendapatkan hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hati yang paling baik, lalu memilihnya dan mengutusnya membawa risalah. Kemudian melihat kepada hati para hamba setelah hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendapatkan hati para sahabat adalah sebaik-baik hati para hamba, lalu menjadikan mereka sebagai pendamping nabi-Nya. Mereka berperang membela agama-Nya, sehingga apa yang dipandang kaum muslimin sebaagi kebaikan maka ia baik disisi Allah dan apa yang dipandang mereka sebagai kejelakan maka ia adlah kejelekan disisi Allah.”

Wajib bagi seorang muslim untuk mencintai seluruh sahabat Nabi, karena Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mencintai mereka, karena mereka juga telah berjihad di jalan Allah dan menyebarkan Islam ke belahan bumi Timur dan Barat, karena mereka telah melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beriman kepadanya serta mengikuti cahaya yang diturunkan kepadanya. Inilah akidah keyakinan Ahlussunnah wal Jamaah.

Allah menyebutkan tentang orang-orang Muhajirin dan Anshar di dalam surat Al-Hasyr, yang artinya:

“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ´mencintai´ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 8-9)

Allah juga menjelaskan bagaimana hendaknya sikap seorang muslim terhadap sahabat-sahabat Nabi, yaitu: seorang muslim hendaknya memohonkan ampunan untuk mereka dan seorang muslim memohon kepada Allah agar tidak membenci mereka. Sebagaimana firman Allah yang artinya:

"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Imam asy-Syaukani mengatakan, “Allah memerintahkan setelah memohonkan ampun kepada Muhajirin dan Anshar, kita juga memohon agar Allah menghilangkan dari hati kita rasa kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Termasuk juga orang-orang yang pertama kali beriman, yaitu para sahabat Nabi. Merekalah orang beriman yang paling mulia. Kemudian juga memohon keridhaan Allah untuk mereka.

Jika di hati seseorang terdapat rasa kedengkian keada para sahabat Nabi, maka dia telah masuk ke dalam perangkap setan dan telah bermaksiat kepada Allah karena mengadakan permusuhan kepada wali-wali-Nya dan wali-wali Rasul-Nya. Orang yang dengki ini juga telah membuka pintu neraka jika mereka tidak bertaubat kepada Allah. Hendaknya seseorang senantiasa memohon kepada Allah agar Allah menghilangkan kedengkian di hati mereka terhadap orang-orang dari generasi terbaik ini. siapa yang di dalam hatinya terdapat kedengkian kepada para sahabat lalu mencela salah satu di antara mereka, maka ia telah menolong setan dan jatuh ke dalam murka Allah.”

Kita harus mengetahui kemuliaan dan kehormatan para sahabat Nabi sebagaimana Allah telah memuliakan mereka. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,

 “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allâh, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An-Nur: 37)

Mereka para sahabat adalah orang-orang yang menolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berjihad bersamanya, dan merasakan kesulitan bersama beliau hingga datang pertolongan Allah. Setelah itu, para sahabat membantu beliau menyebarkan tauhid dan risalah Islam. Setelah Rasulullah wafat, mereka meneruskan dakwah tersebut. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Allah juga berfirman yang artinya,

“Namun Rasulullah dan orang-orang beriman bersamanya, mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka dan bagi mereka disiapkan kebaikan dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 88-89)

Dalam ayat ini Allah menjanjikan untuk mereka kebaikan, kemenangan, dan surga.

Mereka beriman dan berjihad dengan jiwa dan harta mereka, merekalah orang-orang yang ridha kepada Allah dan Allah pun meridhai mereka, jika demikian siapa yang berani mencela mereka? Siapa yang mampu menghina mereka setelah Allah memuji mereka? dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memuji para sahabatnya dengan sabdanya,

“Sebaik-baik manusia adalah mereka yang segenerasi denganku, kemudian yang setelah mereka, dan kemudian yang setelah mereka.”

Alangkah indahnya perkataan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu,

“Barang siapa di antara kalian ingin mncontoh, maka hendaklah mencontoh orang yang telah wafat, yaitu para Shahabat Rasulullah, karena orang yang masih hidup tidak akan aman dari fitnah, Adapun mereka yang telah wafat, merekalah para Sahabat Rasulullah, mereka adalah ummat yang terbaik saat itu, mereka paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling baik keadaannya. Mereka adalah kaum yang dipilih Allah untuk menemani NabiNya, dan menegakkan agamaNya, maka kenalilah keutamaan mereka, dan ikutilah jejak mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.”

Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang menyelisihi jalannya orang-orang yang beriman ini dengan firman-Nya yang artinya,

“Barang siapa menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman1, Kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)

Pokok keyakinan Ahlussunnah ridha kepada sahabat Nabi dan barangsiapa yang menyelisihi mereka, maka Allah ancam dengan adzab. Mencela sahabat Nabi haram hukumnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jangan kalian cela seorang pun dari sahabatku. Jika salah seorang di antara kalian berifak dengan emas sebesar Gunung Uhud, maka tidak akan menandingi infak satu mud dari mereka atau bahkan setengah mud.”

Bayangkan kaum muslimin, jika kita menginfakkan emas semisal dan sebesar Gunung Uhud, tidak sama kualitasnya dengan seperempat sha’ infak mereka yang hanya berupa kurma. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang mencela sahabatku, maka baginya laknat Allah, malaikat-malaikat-Nya, dan seluruh manusia.”

Mencela mereka sama dengan menyakiti mereka. Allah berfirman yang artinya,

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58).

Siapa yang ingin agar agama dan keimanannya selamat, maka hendaknya ia mencintai seluruh sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena yang demikian ini adalah sebuah kewajiban bagi orang-orang yang mengaku muslim dan memang hal ini disepakati oleh para ulama akan wajibnya.

Orang-orang yang berpaling dari mencintai mereka pasti akan binasa. Orang yang berpaling dari kewajiban ini pasti akan terkena fitnah. Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan, “Janganlah kalian mencela sahabat-sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berdirinya mereka –mendampingi Nabi- sesaat saja, itu lebih baik daripada 40 tahun amalan kalian.”

Imam Ahmad mengatakan, “Jika kalian melihat seseorang yang mengatakan keburukan terhadap sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka curigailah orang tersebut akan membuat makar terhadap Islam.”

Hendaknya kita tidak cinta saja dengan para sahabat Nabi akan tetapi tidak membela mereka ketika ada yang mencelanya. Mencintai mereka merupakan sesuatu yang dikedepankan dan membela mereka adalah suatu kewajiban. Karena ada orang-orang Syiah yang merendahkan kedudukan sahabat Nabi yang mulia, mereka mencela sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Zur’ah mengatakan, “Apabila kalian melihat seseorang merendahkan kedudukan salah seorang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah! Mereka itu orang zindiq (munafik yang berusaha merusak Islam dari dalam). Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar bagi kita, Alquran itu benar, dan Alquran sampai kepada kita melalui sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka (orang yang mencela) hendak menjelekkan saksi-saksi kita agar Alquran dan sunnah pun jadi jelek. Semestinya merekalah yang lebih layak dikritik dan dijelekkan.”

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Fayiz Harbi hafizhahullah


Oleh: Tim KhotbahJumat.com
Artikel: www.KhotbahJumat.com
 

Seputar Definisi Iman?

Iman adalah keyakinan dengan hati, ucapan dengan lisan, dan amalan dengan anggota tubuh.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman’, katakanlah, Kalian belum beriman, tapi katakanlah ‘Kami telah tunduk.’ Karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian…” (Qs. Al-Hujurat: 14)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Iman itu hendaklah: Engkau beriman kepada Allah, kepada Malaikat-Nya, kepada kita-kitab-Nya, kepada Rasul-Rasul-Nya, kepada hari Kiamat, dan hendaklah engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” (Shahih Muslim I/135)

Hasan Al-Bashri berkata: “Iman itu bukanlah dengan berangan-angan dan berhias akan tetapi dia adalah sesuatu yang kokoh dalam hati dan dibuktikan oleh amalan.”

Sumber:
Ambillah Aqidahmu dari Al-Qur’an dan Sunnah, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Al-Husna, 2009

Artikel: Aqidatuna.Com